POKJAWASPAI NASIONAL

Membangun Komunikasi, Koordinasi dan Konsultasi

Lt. 8 Gedung Kementerian Agama RI

Jurnal Pendis

Senin, 19 Oktober 2020 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 2916 Kali

Artikel

Anan Baehaqi

PENINGKATAN MUTU PENGAWASPAI

MELALUI PEMBERDAYAAN POKJAWAS

(SEBUAH ANALISIS MENGEFEKTIFKAN MUSYWIL POKJAWAS PROVINSI JAWA BARAT)

Introduction

Pengawas sekolah adalah jabatan fungsional yang mempunyai ruang lingkup tugas, tanggung jawab dan wewenang untuk melaksanakan kegiatan pengawasan akademik dan manajerial pada satuan pendidikan. Tugas pengawas sangatlah banyak..Dalam PMA no 2 tahun 20212 dijelaskan bahwa Pengawas PAI pada Sekolah mempunyai tugas melaksanakan pengawasan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah (tanpa manajerial). Selanjutnya  dijelaskan pasal 4 ayat 2 disebutkan bahwa “Pengawas PAI pada Sekolah mempunyai fungsi melakukan: (a). penyusunan program pengawasan PAI; (b). pembinaan, pembimbingan, dan pengembangan profesi guru PAI; (c). pemantauan penerapan standar nasional PAI; (d). Penilaian hasil pelaksanaan program pengawasan; dan (e). pelaporan pelaksanaan tugas kepengawasan. Sehingga pengawas PAI memiliki tugas dan tanggung jawab terhadap peningkatan kualitas perencanaan, proses, dan hasil pendidikan dan/atau pembelajaran PAI pada TK, SD/SDLB, SMP/SMPLB, SMA/SMALB, dan/atau SMK.

Seiring dengan kebijakan yang berkembang dengan dinamis lahirlah PP. NO 17 TAHUN 2017 tentang PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 74 TAHUN 2OO8 TENTANG GURU, dalam ayat menegaskan beberapa hal, diantaranya model pembayaran tunjangan, yaitu “Dalam hal Guru diangkat sebagai pengawas satuan pendidikan, akan diberikan tunjangan profesi pengawas satuan pendidikan dan tidak diberikan Tunjangan Profesi (pasal 15 ayat 3). “Beban kerja pengawas satuan pendidikan, pengawas mata pelajaran, atau pengawas kelompok mata pelajaran dalam melakukan tugas pengawasan, pembimbingan, dan pelatihan profesional Guru ekuivalen dengan paling sedikit 24 (dua puluh empat) jam pembelajaran tatap muka dalam 1 (satu) minggu” (pasal 54 ayat 3), AYat ini kemudian dikuatkan teknis pembayaran tunjangan profesi pengawas (pasal 67A).

Dinamika ini terus bergulir akan ketidakpercayaan sebagian orang terhadap keberadaan pengawas dengan isu penghapusan pengawas sekolah di sekolah/madrasah, kemudian muncul  SE Dirjen no 111, tentang PELAKSANAAN PENGAWASAN AKADEMIK DAN MANAJERIAL PENGAWAS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM yang sampai hari ini penyelesaiannya belum terlihat indah.

Sudah menjadi rahasia bersama, bahwa posisi pengawas bukanlah Posisi yang Wenak (PW) tapi posisi dimana memiliki beban psikologis yang tidak enteng. Namun beban berat ini tidaklah langsung dayung bersambut dengan kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada pengawas, pengawas seringkali orang yang terakhir mendapat informasi yang kadang-kadang terdahului oleh guru bina. Misalnya kasus perubahan pada kurikulum 2013 di mana pengawas banyak yang gigit jari, sementara para guru binaa sudah melejit bagaikan jet. Contoh lainnya ketika masa pandemi Covid 19 dengan konsep pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) beberapa bulan dengan menerapkan konsep pembelajaran abad 21 dengan kebijakan Merdeka belajar dengan kurikulum yang sederhakan. Siapa yang sudah peduli meningkatkan mutu pengawas PAI?

Sisi lain kita menyaksikan bagaimana isu pembayaran Tunjangan Kinerja yang terus diombang ambing tidak jelas dan menentu, sementara saudara kembarnya sudah menikmati dalam beberapa tahun ini. Belum lagi implementasi PP 11 tahun 2017 tentang Manajemen PNS yang ditindaklanjuti dengan lahirnya  Permenpan RB no 35 TAhun 2018 dan BKN no. 1 tahun 2020 tentang tata cara Penetapan Penugasan Pegawai Negeri Sipil pada Instansi Pemerintah dan di luar pemerintah. LAgi-lagi pengawas dan Guru PAI yang berada di dunia dunia (Pegawai Pemda dan Pegawai Kemenag) kena imbasnya. Pertanyaannya siapa yang peduli dengan pengawas PAI, Siapa yang mengawal peningkatan mutu pengawas PAI, siapa yang menjamin terselenggaranya PAI di sekolah.

Pertanyaan inilah yang harus dijawab oleh nakoda Pokjawas dengan misi meningkatkan mutu Pengawas PAI melalui PEMBERDAYAAN PENGAWAS PAI.

PEMBERDAYAAN POKJAWAS PAI SUATU KENISCAYAAN

 

Kindervatter (2014: 13) menjelaskan tentang pemberdayaan: empowering is: People gaining an understanding of and control over social, economic, and/or political forces in order improve their standing in society. Dari pengertian dapat jelaskan bahwa pemberdayaan adalah masyarakat yang mendapatkan pemahaman dan kontrol atas kekuatan sosial, ekonomi, dan / atau politik dalam rangka meningkatkan posisi mereka dalam masyarakat.

Banyak makna yang dapat disandingkan POKJAWAS PAI dengan pemberdayaan ini, diantaranya upaya saling memberi informasi dan pengetahuan pada sesama belajar terus menerus dan inovasi, pelibatan semua komponen organisasi, pemberian perlindungan hukum, pemberian fasilitas peningkatan kompetensi diri.

Tujuan

Pemberdayaan pada pengawas PAI diantaranya (1) Perbaikan lembaga (better institution), (2) perbaikan program (better business), (3) perbaikan hasil (better income), (4) perbaikan budaya lingkungan kerja (better environment), (5) perbaikan kehidupan (better living), (6) perbaikan masyarakat (better community), (Theresia, 2015: 153)

Prinsip

Agar pemberdayaan pengawas PAI berhasil, maka perlu dipegang prinsip-prinsip pemberdayaan tersebut. Apabila abai maka sulit untuk mencapai tujuan pemberdayaan yang efektif. Prinsip-prinsip tersebut antara lain :

  • Prinsip Kesetaraan artinya adanya kesejajaran kedudukan antara masyarakat dengan lembaga yang melakukan program pemberdayaan. Hal ini dilakukan dengan proses saling belajar, dengan mengembangkan berbagai pengetahuan, pengalaman, serta keahlian yang dimiliki masing-masing serta saling mengakui kelebihan dan kekurangan.
  • Prinsip Partisipasi artinya direncanakan, dilaksanakan, diawasi dan dievaluasi oleh masyarakat, sehingga dapat menstimulasi kemandirian masyarakat.
  • Prinsip keswadayaan atau kemandirian, yaitu prinsip menghargai dan mengedepankan kemampuan masyarakat untuk menyumbangkan pengetahuannya terhadap kendala-kendala usahanya, terhadap kondisi lingkungannya, serta memiliki tenaga, kemauan serta norma-norma bermasyarakat yang sudah lama dipatuhi.
  • Prinsip berkelanjutan, artinya dirancang untuk berkelanjutan. Walaupun pada awalnya peran pendamping sangat dominan dibanding masyarakat sendiri,namun secara perlahan dan pasti akan semakin berkurang, bahkan akhirnya dihapus, karena masyarakat sudah mampu mengelola kegiatannya sendiri

 

Karakter Pemberdayaan

Dengan kata lain pemberdayaan merupakan upaya dinamis agar melahirkan individu atau kelompok agar mampu bertahan hisup, memberikan makna terbaik, menungkinkan semua individu mampu mengapresiasikan diri, meningkatkan kompetensi diri,

Paling tidak ada 6 karakter pemberdayaan yang dapat diterapkan dalam POKJAWAS PAI, yaitu

  1. Pemungkinan (Enabling), yakni menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang secara optimal, sehingga mampu membebaskan anggota dari sekat-sekat kultural dan struktural yang menghambat,
  2. Penguatan (empowering), yakni memperkuat pengetahuan dan kemampuan anggota dalam memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhannya, sehingga mampu menumbuh-kembangkan segala kemampuan dan kepercayaan diri anggota yang menunjang kemandirian mereka.
  3. Perlindungan (protecting) yakni melindungi kelompok-kelompok lemah agar tidak tertindas oleh kelompok kuat, menghindari persaingan yang tidak sehat dan tidak seimbang, serta mencegah terjadinya eksploitasi kelompok tertentu terhadap kelompok lainnya. Dengan demikian melalui pemberdayaan akan terjadi penghapusan bentuk diskriminasi dan dominasi yang tidak menguntungkan pihak tertentu.
  4. Penyokongan (supporting) yakni memberikan bimbingan dan dukungan agar anggota mampu menjalankan peranan dan tugas-tugas kehidupannya, agar tidak masuk dalam kondisi dan posisi yang semakin terpinggirkan.
  5. Pemeliharaan (fostering), yakni memelihara kondusifnya keadaan, menjaga keseimbangan pembagian jabatan, menjamin keselarasan agar setiap anggota memperoleh kesempatan yang sama.
  6. Inovasi (Innovating), yakni senantiasa berinovasi untuk menentukan sesuatu terbaik bagi perkembangan organisasi

 

Proses Pemberdayaan Pengawas PAI melalui Pokjawas

Proses perubahan di dalam pemberdayaan di tubuh Pokjawas dapat terwujud apabila memenuhi proses berikut ini, yaitu (1) Pemberdayaan sebagai suatu proses perubahan dari kondisi buruk menjadi kondisi yang lebih baik, sehingga diperlukan inovasi, ide-ide, produk, gagasan, teknologi, fasilitator, dan politik yang mendukung. (2) Pemberdayaan sebagai proses pembelajaran yang didalamnya ada upaya pembelajaran atau pelatihan. (3) Pemberdayaan sebagai proses penguatan kapasitas individu, kelompok (lembaga), organisasi yang memerankan fungsinya secara efektif, efisien, dan berkelanjutan; masyarakat, strategi pembangunan yang memberikan perhatian lebih banyak

Pengawas sekolah merupakan sebuah profesi yang menjalankan fungsi control dalam sebuah manajemen pendidikan. Keberadaanya sangat diperlukan untuk menjamin terlaksana atau tidaknya suatu kebijakan pendidikan. Secara khusus pengawas PAI merupakan profesi yang memiliki posisi strategis dalam rangka menjamin terlaksananya manajemen di bidang itu, mulai perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Untuk mencapai harapan tersebut maka harus ada upaya untuk meningkatkan profesionalisme dan kinerja pengawas PAI pada sekolah. Maka untuk meningkatkan efektifitas pengawasan dibentuk organisasi pengawas PAI yang disebut dengan Kelompok Kerja Pengawas PAI. Kelompok Kerja Pengawas yang selanjutnya disebut Pokjawas PAI adalah wadah kegiatan pembinaan profesi untuk meningkatkan hubungan kerjasama secara koordinatif dan fungsional antar pengawas di lingkungan Kementerian Agama (PMA No. 2 Tahun 2012).

Pokjawas PAI merupakan organisasi yang mewadahi kegiatan pembinaan profesi pengawas, untuk meningkatkan hubungan kerjasama secara koordinatif dan fungsional antar pengawas PAI di lingkungan Kementerian Agama. Pokjawas PAI dibentuk berdasarkan pola pembinaan yang dilakukan oleh pejabat berwenang, pada sisi Pokjawas PAI merupakan organisasi yang memiliki ruang untuk mampu mengembangkan diri sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan organisasi. Oleh karena itu organisasi ini memiliki tugas dan fungsi yang strategis guna menjembatani kebutuhan pengawas dalam meningkatkan layanan tugasnya.

Tugas utama pokjawas PAI adalah untuk meningkatkan profesionalisme dan kinerja pengawas PAI (Kementerian Agama, 2012). Adapun fungsinya sebagai organisasi pengembangan profesi Pengawas Pendidikan Agama pada sekolah. Secara rinci fungsi Pokjawas PAI Provinsi Jawa Barat berfungsi:

  1. Wadah untuk menampung dan menyalurkan aspirasi Pengawas Pendidikan Agama Islam;
  2. Lembaga untuk memfasilitasi Pengawas Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan kompetensi dan profesionalisme;
  3. Pemberi rekomendasi terhadap rekrutmen calon Pengawas Pendidikan Agama Islam dan kegiatan pengawasan

 

Jjenis-jenis pemberdayaan Pokjawas

Adapun jenis-jenis pemberdayaan Pokjawas yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu pengawas PAI antara lain:

  • Pendidikan dan pelatihan

Pendidikan dan pelatihan (diklat) memiliki arti upaya untuk mengembangkan SDM terutama untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan kepribadian manusia. Adapun tujuan diklat adalah yang disebutkan dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 75 tahun 2015 adalah sebagai berikut:

  1. Meningkatkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan pegawai agar dapat melaksanakan tugas jabatan secara profesional yang dilandasi kepribadian dan kode etik pegawai Kementerian Agama;
  2. Menciptakan ASN yang inovartif dan mampu merekatkan persatuan dan kesatuan bangsa;
  3. Memantapkan sikap dan semangat pengabdian yang berorientasi pelayanan, pengayoman, dan pemberdayaan masyarakat;
  4. Menciptakan pegawai yang berkualitas, profesional, berintegritas, dan bertanggung jawab
  • Bimbingan Teknis

Bimbingan Teknis atau yang sering disebut dengan Bimtek adalah pelatihan dilaksanakan oleh lembaga tertentu dalam rangka meningkatkan kompetensi pegawai baik pengetahuan maupun teknik operasional. Materi Bimtek yang dapat dilakukan dikembangkan pada pengawas PAI seperti bimtek kurikulum, metodologi pembelajaran, Penialan Angka kredit bagi guru dan pengawas, penelitian, karya tulis ilmiah PTS, pengembangan ICT dan lain-lain.

  • Pembinaan

Secara umum pembinaan disebut sebagai sebuah perbaikan terhadap pola kehidupan yang direncanakan. Adapun secara konseptual,empowerment berasal dari kata ’power’ (kekuasaan atau keberdayaan), oleh karenanya ide utama pembinaan bersentuhan dengan konsep mengenai kekuasaan.

Tujuan pembinaan Pembinaan terhadap pegawai adalah untuk menghasilkan pegawai yang bermutu dan berkualitas melalui perencanaan dan pengorganisasian serta pengendalian berjalan secara teratur dan terarah, sehingga akhirnya dapat berdaya guna dan berhasil guna dengan baik. Agar tujuan ini dapat tercapai maka dalam implementasinya pembinaan harus didasarkan pada sesuatu yang bersifat efektif dan pragmatis.

  • Kerja kelompok

Kelompok adalah kumpulan dua orang atau lebih satu sama lain berinteraksi dan saling mempengaruhi untuk suatu mencapai tujuan tertentu yang dipahami bersama. Dari arti tersebut dapat dianalisis bahwa kelompok memiliki ciri (karakteristik) sebagai berikut (1) merupakan kumpulan yang beranggotakan lebih dari satu orang, (2) adanya interaksi diantara kumpulan orang tersebut, (3) adanya tujuan bersama yang ingin dicapai, (4) ada pengaruh perilaku kelompok terhadap perilaku individu. (5) individu yang bergabung dengan kelompok akan memperoleh sesuatu yang tidak dapat diperolehnya secara individu. Adapun pengertian pekerjaan adalah sesuatu yang telah direncanakan oleh organisasi, yang kemudian dilaksanakan untuk mencapai tujuan.

  • Forum ilmiah

Forum ilmiah merupakan tempat untuk melakukan presentasi maupun diskusi ilmiah. Forum ilmiah terdiri dari berbagai jenis, ada yang berdasarkan model pelaksanaan ada yang ditinjau berdasarkan cakupan pesertanya. Dalam forum ilmiah juda dapat dilakukan presentasi makalah baik pada kalangan luas juga terbatas. Untuk kalangan terbatas, biasanya pengawas berperan sebagai keynote speaker atau pembuka acara.

Adapun beberapa macam serta jenis forum ilmiah, diantaranya sebagai berikut:

  1. Simposium

Simposium merupakan serangkaian pidato singkat didepan pengunjung yang memiliki seorang pemimpin. Biasanya symposium ini menampilkan beberapa pembicara dan umumnya mereka ikut mengemukakan pandangan-pandangannya sesuai topik, dibahas melalui gagasan yang berbeda. Simposium bisa juga dilakukan dengan membagi suatu topik permasalahan ke dalam beberapa aspek, yang kemudian tiap aspek disoroti secara khusus serta tersendiri, dengan tanpa memerlukan sudut pandang yang berbeda.

  1. Seminar

Seminar adalah pembahasan masalah ilmiah, meskipun topik biasanya dibahas adalah persoalan atau masalah terjadi sehari-hari. Tujuan membahas masalah ialah supaya mencari solusi pemecahan, maka dari itu seminar harus selalu diakhiri oleh keputusan-keputusan kesimpulan sebagai hasil dari pendapat bersama, dan terkadang diikuti rekomendasi atau resolusi.

  1. Workshop atau Lokakarya

Lokakarya dan workshop memiliki kesamaan, yakni merupakan pertemuan ilmiah yang membahas sebuah karya. Lokakarya diawali presentasi oleh pemakalah  tentang sebuah materi, sebuah karya atau bagaimana cara menghasilkan karya, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan untuk menghasilkan karya.

  1. Diskusi

Diskusi adalah upaya bertukar pikiran yang dilakukan oleh beberapa orang terkait suatu masalah, agar bisa dipahami, ditemukan faktor penyebab terjadinya masalah, serta ditemukan jalan keluarnya. Pelaksanaan diskusi sering kali dengan FGD (focus discussion group)

  1. Rapat

Rapat adalah sebuah bentuk sarana komunikasi secara kelompok dan resmi sifatnya langsung tatap muka, dan biasanya diselenggarakan oleh berbagai organisasi, baik organisasi pemerintahan maupun swasta.

  1. Konferensi

Konferensi adalah pertemuan atau rapat untuk bertukar pendapat atau berunding tentang suatu masalah untuk dihadapi bersama. Rapat atau konferensi bisnis biasanya pertemuan membahas persoalan bisnis. Sedangkan konferensi pers, adalah sebuah pemberitahuan/ informasi untuk pers mengenai hal-hal tertentu, kemudian diikuti sesi tanya jawab.

  • Pengembangan ICT

Pengembangan ICT pada saat ini merupakan suatu keniscayaan dilakukan setiap organisasi yang maju, terlebih dengan kondisi saat ini yang mengharuskan semua pengawas PAI wajib mampu menggunakan ICT. Pengembangan itu dapat berupa kolaborasi maupun memunculkan daya kreativitas. Misalnya saat ini Pokjawasnas sedang mengembangkan aplikasi virtual convemeet selain zoom dan aplikasi virtual lainnya yang bersipat membantu pelaksanaan tugas dan fungsi pengawas PAI.

  • Study banding,

Studi banding merupakan suatu konsep pembelajaran yang dilakukan dengan cara mendatangi suatu objek atau lokasi lain yang memiliki kesamaan dengan kondisi yang ada di tempat sendiri. Tujuan dari kegiatan ini adalah agar wawasan dan pengetahuan peserta dapat  meningkat setelah mendatangi objek tersebut, kemudian wawasannya tersebut diterapkan di tempat sendiri agar menjadi lebih baik.

 

SIAPA NAKODA POKJAWAS PAI MAMPU MEMBAWA KE ARAH INI