POKJAWASPAI NASIONAL

Membangun Komunikasi, Koordinasi dan Konsultasi

Lt. 8 Gedung Kementerian Agama RI

TOT Master of Trainer

Kamis, 17 Mei 2018 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 1198 Kali

Pembinaan dari Dirjen Pendis Kemenag. Prof. Kamarudin Amin.

konsep moderasi beragama (pengarusutamaan Islam Moderat) menjadi instrumen yang paling strategis dari GPAI untuk terus digelorakan melalui pendidikan agama di sekolah. bahkan moderasi Islam ini menjadi wajib hukumnya ditransformasikan oleh guru dalam proses pembelajaran di kelas serta menjadikannya sebagai religious culture di sekolah. hal ini bukan sesuatu yang mengada-ada, akan tetapi berdasarkan temuan beberapa survey yang sering disampaikan oleh banyak pihak kepada Dirjen Pendis. yang menyimpulkan bahwa "sedang terjadi pemahaman kegamaan intoleran baik di kalangan murid dan guru agama Islam". survey UIN Yogyakarta juga mendukung terhadap sikap keberagamaan anak-anak milenial yang cenderung eksklusif dalam bergama, hal ini karena mereka jarang menemukan bacaan  buku-buku yang bersumber dari orang-orang moderat. kebanyakan mereka mendapat sumber bacaan yang bersumber dari orang-orang yang konservatif (literal,tekstual) yang menawarkan sajian  bacaan yang sederhana dan tidak terlalu tinggi bahasanya.

riset yang menunjukkan ROHIS sebagai tempat menyebarkan "intoleran" diawali oleh alumni yang kuliah setelah mendapat infiltrasi pemahaman keagamaan "konservatif/literal"dari kampus mereka lalu membawanya ke Rohis di sekolah tempat mereka masing-masing.

sementara menurut Prof. Kamarudin Amin buku bacaan yang bersumber dari orang-orang moderat sangat tinggi pembahasannya dan bahasanya, sehingga tidak mudah dicerna oleh anak-anak milenial. oleh karena itu dirjen pendis. mengharapkan para guru agama termasuk pengawas terbiasa menulis buku-buku sebagai bagian dari memberikan sumber bacaan yang moderat kepada anak-anak milenial. guru agama termasuk yang mengalami keseharian dalam menangani problem anak-anak di sekolah sehingga punya terobosan dalam memberikan solusi pengalamannya. oleh karenanya jika pengalaman itu diutarakan dalam bentuk menulis akan menjadi wawasan baru bagi anak-anak dalam mendapatkan alternatif bacaan mereka.

dalam FB.nya dirjen. Pendis. suka menulis dan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh kawan di fb. Namun ada yang menarik setelah membaca dari pengalaman guru yang sangat genuine yang ditulis di akun nya terkait penanganan guru tersebut dalam problem di sekolah tahap-demi tahap.

menurutnya radikalisme yang muncul menjadi tanggung jawab yang dipikul oleh Kemenag. karena itu IN (the choosen teacher) yang sedang mendapatkan program TOT ini harus menjadi benteng terdepan dalam mengawal pemahaman kegamaan yang moderat (wasathiah) di kalangan murid dan guru. guru yang menjadi IN ini mesti mempunyai metode dalam mentransformasi ilmunya kepada murid-murid dalam rangka merawat keindonesiaan. 

sebagai tambahan direktur Pendidikan Agama Islam Dr. mam Syafei dalam rangka meneruskan keinginan Dirjen. Pendis.  para IN yang mengikuti TOT ini akan diminta dan diajak  untuk memikirkan apa yang ditulis, menulis apa yang dipikirkan, mengerjakan apa yang ditulis, menulis apa yang dikerjakan. hal ini akan dijadikan dalam tiga budaya yaitu budaya religius, budaya akademik dan budaya digital.

   

   

KOMENTAR

Abdul Mufid - Rabu, 24 Juli 2019

Alangkah indah jika diinformasikan tentang PPKB-PAI. Yaaah SOSIALISASI PPKB-PAI secara umum, bukan materi PKB-nya. Karena saya yakin info awal tentang PPKB-PAI belum semua pengawas menerima info ini. Jadi mohon para MT (Master Trainer) untuk sekedar share secara umum tentang PPKB-PAI.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT